Persoalan lingkungan hidup merupakan persoalan yang bersifat sistemik, kompleks, serta memiliki cakupan yang luas. Oleh sebab itu, materi atau isu yang diangkat dalam penyelenggaraan kegiatan pendidikan lingkungan hidup juga sangat beragam. Sesuai dengan kesepakatan nasional tentang Pembangunan Berkelanjutan yang ditetapkan dalam Indonesian Summit on Sustainable Development (ISSD) di Yogyakarta pada tanggal 21 Januari 2004, telah ditetapkan 3 (tiga) pilar pembangunan berkelanjutan yaitu ekonomi, sosial, dan lingkungan[1]
Ketiga pilar tersebut merupakan satu kesatuan yang bersifat saling ketergantungan dan saling memperkuat. Adapun inti dari masing-masing pilar adalah :
1. Pilar Ekonomi: menekankan pada perubahan sistem ekonomi agar semakin ramah terhadap lingkungan hidup sesuai dengan prinsip-prinsip pembangunan berkelanjutan. Isu atau materi yang berkaitan adalah: Pola konsumsi dan produksi, Teknologi bersih, Pendanaan/pembiayaan, Kemitraan usaha, Pertanian, Kehutanan, Perikanan, Pertambangan, Industri, dan Perdagangan
2. Pilar Sosial: menekankan pada upaya-upaya pemberdayaan masyarakat dalam upaya pelestarian lingkungan hidup. Isu atau materi yang berkaitan adalah: Kemiskinan, Kesehatan, Pendidikan, Kearifan/budaya lokal, Masyarakat pedesaan, Masyarakat perkotaan, Masyarakat terasing/terpencil, Kepemerintahan/kelembagaan yang baik, dan Hukum dan pengawasan
3. Pilar Lingkungan: menekankan pada pengelolaan sumberdaya alam dan lingkungan yang berkelanjutan. Isu atau materi yang berkaitan adalah: Pengelolaan sumberdaya air, Pengelolaan sumberdaya lahan, Pengelolaan sumberdaya udara, Pengelolaan sumberdaya laut dan pesisir, Energi dan sumberdaya mineral, Konservasi satwa/tumbuhan langka, Keanekaragaman hayati, dan Penataan
Perspektif pendidikan lingkungan hidup dalam interaksi komunitas sosial berpijak kepada perlakuan manusia kepada lingkungan sekitarnya dimana membutuhkan suatu lingkungan budaya ( etika, norma, pengetahuan, ketrampilan,status) contoh:
1. Manusia disebut lingkungan sosial, pada saat melakukan suatu interaksi kepada sesama maka akan memerlukan lingkungan budaya berupa etika atau aturan yang sesuai pada siapa yang dihadapi, berbicara dengan atasan tentu berbeda dengan cara bicara dengan kawan yang sejajar. bila manusia menggunakan lingkungan budaya yang sesuai maka akan menimbulkan keharmonisan hidup.
2. Bila manusia berinteraksi dengan lingkungan biologi (hewan /tumbuhan) maka memerlukan lingkungan budaya berupa pengetahuan tentang cara merawat tumbuhan/hewan sehingga akan menimbulkan keharmonisan hidup bagi lingkungan
3. Bila manusia berinteraksi dengan lingkungan fisik ( udara, air, tanah, rumah, dll) maka memerlukan lingkungan budaya berupa ilmu pengetahuan dan ketrampilan guna memamfaatkannya sesuai yang dibutuhkan untuk meningkatkan keharmonisan hidupnya, seperti jika perlu udara segar maka harus tahu cara berolah raga, jika ingin membangun rumah harus tahu cara mengumpulkan uang, jika ingin komputer harus tahu pengetahuan komputer.
persoalan ketidak harmonisan oleh karena kita manusia tidak tepat memilih lingkungan budaya yang sesuai. Pada kehidupan bermasyarakat saat ini, persoalan konflik sering terjadi sebagian besar diakibatkan tiada etika atau kepercayaan lagi kepada sesama, aparat, pemimpin hal ini karena kesalahan memilih budaya komunikasi yang kurang tepat dalam berinteraksi.contoh lainnya adanya gejala global warming yang berkepanjangan sebagai dampak dari lingkungan budaya ( kesadaran./pengetahuan/.ketarmpilan) yang tidak tepat dalam pengelohan suatu industri sehingga berdampak polusi udara yang pekat maka akan meningkatkan suhu atmosfir bumi.Dengan pendidikan lingkungan hidup, kita akan memilih budaya yang tepat dan sesuai dalam berinteraksi baik kepada manusia maupun lingkungan lainnya sehingga keharmonisan hidup kita berupa kesehatan. keamanan dan keindahan akan tercapai
Tidak ada komentar:
Posting Komentar